






ZAHARA
serupa pilar,kesunyianku,,,
bertumpu tanah,
jejak kupahat diam-diam
pada lembab tualang
karna sinar urung benderang
dan aku terkurung carang,duri hati sendiri
zahara,masihkah tanahmu terasa basah
saat mata kemarau dan seluruh jazirah gumamkan rindu pada darah
adakah sangkal,saat sebutir nafsu palsu pada ilham ???
pada daun, aku berguru
guratnya kutoreh dibahu dan langkah,
tapi racun berbiak biak dipikiran
jiwaku terpasung atas namamu
dan kugali kubur sementaraku
sekeji pencuri
membongkar lahat
untuk satu kafan ~ membungkus do’a ~ do’a yang panjang
tapi hitam,
dalam kutukan
ada rencana diawal waktu,
sebelum segala tumbal itu membatu
ada desir kelewat biru;sebelum getir kekal dipintu,
ada sejarah,deraskan darah dan nanah,,,
saat perempuan lebih berjiwa,degup sangsi pada trah sendiri
ada harga;tak terpahami,dari letup bara
tersimpan diam;sebelum sebuah ledakan titahkan kumandang
di arus sadar,kusembah nirwana
aku terbang lebihi mimpi,kuasaku pada asa api,
membubung lebih curam dari birahi
dalam waktu, kubangun pilar kesunyianku, sekeramat siguntang mahameru
dipulau kekinianku
yang terkucil,,,
Mei, 28 05
Disatu sudut kota gajah,,,
kuhantar puja paling bertuah, saat redup membayang diwajahmu
labuh kutubuhkan dipembuluh serupa air di suling,rohku mewarnai udara yang pernah kau hirup
dan asa,,,
meski tinggal sisa sisa
kuberkabung atasmu dengan perayaan terakbar
dari segenap ritus ;agar altar itu
terbasuh dari segala belasungkawa
bunga itu tetap mekar
dan tak pernah layu kedasar
walau tak disebar,,,
zahara,,,
dalam dupa,kukenang bening air mata
supaya kerling dunia tak berpaling duka
supaya kau bisa berakhir dengan purna bersemayam
dengan piyama kebesaran
setenang tidur panjang sang bayi
dan bayang bayangmu terus bertarung bersama waktu,,
Kekinian terkucil
Episod masa lalu
(andai tiap bayi berhak memilih,,,)
Dulu,,,ia ibu dari segala kekasih,
Dari laut,mengadu surut,ke sungai sungai yang beranak
Pada tubuhnya yang berbau gambut,lalu malam bertandang
Menyelinap di senyap yang gagap
Mendengkur seperti debur seperti suara mesin-mesin lembur
Gelap juga adalah nasib
Serupa senja yang kasip dan berulang,terus berulang,,,
Kalian tahu ???
Didaun pinus yang patah sebelah
Ia rebah bagai pelepah kalah,menanti musim berbenah
Menunggu debu bersayap
Untuk cinta itulah ia mengalah
Mencubit kulit
Mencintai rasa sakit
Bahkan sesekali ia dibantai
Agar peluh berderai
Tapi tak sesedap saat tersesat
Dalam dekap,dalam rumah adat yang tak bertingkap
Sebuah keluarga,ia duga
Telah ranab asal usulnya
AKULAH MELAYU,,, !!! AKULAH MELAYU ,,, !!!
Dan mereka terus berseru
Dari balik tiang tiang surau,
Dari perahu perahu tak berhulu
Sesemak tanah tanah mati
Mereka lalu berkerumun
Sibuk membatas luas bebas
Sesibuk para perawan yang lupa cara bertanak
Aduhai,kampung tempurung,,
Kota kota melepas gapai,
Menjulurkan tikai
Dan dibelakang mereka dayung terapung
Diatas bangkai sungai
( dengan apa lagi membunuh musuh jika yang tersisa cuma keluh sebab terlalu lama berlabuh sampai lupa
cara berkayuh,,, ??? )
Tapi untuk cinta itulah,ia melukis sejarah,mirip rajah yang terserak
Ia bingkai dari retak
Segalanya menjelma baru
Seperti potret perawan belia yang tersipu
Duh,seluruh mata menjelma jadi badik
Membidik dari bilik bilik
Siapakah yang tahan pada godaan ? ( yang haram untuk dilarang )
Maka ia limbung,menakik tubuhnya diatas bumbung
AKU INGIN MENJADI PATUNG,,,
Tapi hujan telah hinggap diatas atap
Manjaring tubuhnya yang leleh seperti plastik dalam api,,
Seperti sunyi yang pasti,,
begitu pula subuh,fajar yang kadang ia kenang sebagai wanita dambaannya yang datang bertandang,,
Rindu itu,,, ” SAKIT YA MAS ??? ”
Ah,,,tak ada untungnya aku aku berharap pada petang,,,
kalian tahu ???
Didaun pinus yang patah sebelah,ia pernah meninggalkan petuah,,,
Pedas lada hingga ke mulut,
Pedas kata menjemput maut
Tapi tumpah,lalu tembus ketanah
Rupanya kita memang ditetak belati janji,
Berburu suku,
Menjajah ras,,,
Bahwa Tuhan telah malas menghitung yang retas,dari hati kita yang tak berbelas
Dan kini ia sendiri bersimpuh dipasir asin
Menyeduh yaasin dan qulhu yang tumbuh diretak bibirnya
Berkali kali berbunga
Kelopak yang kelak renta
Tapi dari belakang punggung,sorak2 itu kembali menggema
Apalah daya luka dibadan
Yang condong kan rebah jua
Yang hinggap kan susah jua,,
Sungai tak sampai2 kemuara
Memanjat tak sampai2 kepucuk
Aduhai,zahara,,,
Impian ini melepas gapai
Menjulurkan tikai
kalian tahu,didaun pinus yang patah sebelah ia kembali belajar dengan tangannya yang gemetar
Sungguh,ia begitu paham hangatnya sebuah pertemuan,
Meski ia tak mampu melupakan perihnya sebuah perpisahan,,,
Jauh2 hari ia menghindar dari lingkar cahaya
Dari tangkap perangkap dekap
Sebab sembab dimatanya adalah tanda derita lama
Yang lekat serupa barut luka
Tapi kadang ia bertandang kehati yang tak pernah ia impikan
Setelahnya,ia raib bersama maghrib,,,membekaskan aib,,
Dan itu dijelmakannya sebagai sisa puisi basi,,,
Tapi untuk cinta itulah,ia memeram benih kisah
Sungguh,inilah saatnya menjilati amis dosa
Kalian tahu,didaun pinus yang patah sebelah,
Ia kini bukan ibu dari segala kekasih
Yang mengadu dari laut
Hanya deru angin lembubu
Lihatlah,tangannya yang berderak,,,
Memukul2 tempurung
Mencoba mendobrak angkuhnya dinding hati,,,
Senja,mungkin sudah gugur,,,
Dan hijau menapak dikejauhan
Biru menguap
Malam merayap
Lalu kita bertatap
Berhitung tentang isyarat Apa yang teringinkan,saat lampu2 mulai dinyalakan ???
Mungkin saja tak ada,,,
Sungguh,kita telah tahu
Sebentar lagi gelap meluputkan bayangan
Kuhanyutkan kenangan lewat bulan yang berpendar ditepian
Antara daun yang akan menerbangkan wajahmu
Dibuih,
Pecah tubuhku,,,
FPD, awal sept 05
Mayat yang pulang
"adakah duka ngalir pada airmata
saat angin sembur bau bangkai
mayat yang pulang,,,
dan ketuk pintu
” Mas??? "
malam bakar suara, erangan
seribu sajadah berarak lewat tetes air
dalam mimpi ngukir luka
seribu sihir dengan tubuh
berkubang darah
dari denting gerimis
aku saksikan jalan-jalan mekar
nggergaji setiap puisi, tubuh
terpenggal dan menjalar jadi aksara-aksara
mursal bergerak di antara sakral
matahari seperti topan, tahun-tahun
kembali meledak sekaligus diam
mematung-pancari pusara-pusara panjang
berlumut dengan ilalang ditumbuhi nafsu
"adakah duka?"
mungkin api
berdentam dengan janggut putih
meremas nafas bayi-bayi yang tumbuh
dan mati dengan derap
para pencuri kitab; sang keris
pukul-patahkan kaki pengelana
di padang paling gelap
rumput-rumput meranggas
tanah-tanah meluncur dari kuncup payudara
gunung berapi yang hunjam gung dan gaung
lalu kampung
menghisap gagap-gelagap irama asap
dan segala
lenyap-melesap di batas
batang-batang padi dan aku
gasak-santap penuh gegap
"mayat yang pulang, bertandang,,
ketuk pintu
” Mas fier ??? "
jenjang januari 06